Wednesday, December 5, 2012

Sungguh Berat Bebanmu, Jatinangorku



Jatinangor ...suatu kecamatan di perbatasan antara Bandung- Sumedang, yang juga merupakan  tempat bermunculannya pemuda-pemuda generasi penerus bangsa, karena secara tidak langsung dengan terdapatnya 4 perguruan tinggi di kecamatan ini seharusnya menjadikannya suatu area pendidikan yang kondusif bagi para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.  Boleh diakui bahwa Jatinangor sudah mengalami perkembangan yang pesat dibandingkan sebelumnya, yang tidak lain hanya desa-desa dengan hamparan sawahnya yang begitu indah.  Betapa tidak, dalam rentang waktu yang hanya beberapa tahun saja, Jatinangor sudah dapat disulap menjadi bangunan-bangunan, pusat perbelanjaan, dll.  Namun kini, seiring berjalannya waktu perkembangan yang terjadi pada Jatinangor pun diiringi pula dengan perkembangan masalah yang menghampirinya.  

Macet, krisis air, pengelolaan sampah, tata ruang lingkungan yang belum begitu baik merupakan maslah kompleks yang kini mendera Jatinangor kita. Mengapa saya bilang kompleks? Karena masalah-masalah tersebut meruapakan masalah yang lazimnya terdapat di suatu kota, bukan hanya di suatu kecamatan.
Masalah sampah di Jatinangor, dimana sampai saat ini Jatinangor belum memiliki tempat pembuangan sampah yang memadai. Dengan kondisi demikian, keberadaan lahan-lahan di Jatinangor pun nantinya akan semakin sempit. Tentunya volume sampah dapat dipastikan terus bertambah, baik yang berasal dari produksi masyarakat atau perusahaan. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada sanitasi air di kawasan Jatinangor pada saat ini dirasakan sangat kritis, mengkhawatirkan. Ketersediaan air bersih semakin hari semakin berkurang secara signifikan. Hal ini bisa jadi dikarenakan berkurangnya daerah resapan karena hampir sebagian daerah permukiman mahasiswa telah tertutup oleh beton dan sejenisnya. Beberapa tempat malah terjadi kekeringan pada saat-saat tertentu. Berkurangnya debit air tanah bersih dan letak sumur yang terlalu dekat dengan pembuangan limbah manusia (septictank) tentunya akan sangat berpengaruh pada kualitas air yang dihasilkan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini bahkan menjadi kajian tersendiri oleh beberapa kalangan.  Belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibatnya melesatnya jumlah penduduk Jatinangor yang tidak diiringi dengan pelebaran jalan raya dan pengaturan lalu lintas yang baik.

Apakah bisa kita pastikan semua itu dapat diatasi Jatinangor sebagai kota baru dilingkungan pendidikan yang tidak tertata dengan baik? Perubahan itu suatu keharusan memang, tetapi apabila perubahan itu tidak tertata dan terencana dengan baik, maka kita tidak akan mengetahui mau dibawa kemana Jatinangor ini nantinya. Paparan segelintir masalah yang mendera Jatinangor ini seharusnya cukup menggelitik mahasiswa-mahasiswa yang hidup di kawasan  Jatinangor untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Namun, kepemimpinan tokoh pemerintaan Jatinangor juga sangat memiliki andil untuk melakukan perbaikan dan pembangunan tersebut.

Beberapa tempo lalu Bapak Presiden RI dan wakilnya sempat mengunjungi Jatinangor, seharusnya beliau sudah cukup “gatal”  melihat paparan masalah di Jatinangor. Mungkin ini bukan ranah kerja beliau, namun apa salahnya hanya sekedar membicarakan sedikit solusi dengan pemerintah Jatinangor, mengingat Jatinangor berisikian 4 perguruan tinggi dengan ribuan calon penerus bangsa di dalamnya. Saya yakin di Indonesia bagian yang lain pun banyak yang memiliki permasalahan yang sama dengan Jatinangor. Tidak kah beliau cukup khawatir dengan permasalahn ini?

Sudah terlalu banyak masalah-masalah yang mendera Indonesia saat ini bahkan beberapa tahun ke depan. Jangan sampai Jatinangor menambah beban masalah Tanah Airku yang kucinta. Mari kita sebagai mahasiswa mulai begerak setidaknya untuk Jatinangor terlebih dahulu, mengurangi salah satu beban tanah air. Kita untuk Jatinangor, berarti 10 langkah lebih maju menuju Indonesia yang lebih baik. Ayo!!!Hantarkan kontribusimu wahai mahasiswa!!!!Hidup Mahasiswa!!!


No comments:

Post a Comment