Jatinangor
...suatu kecamatan di perbatasan antara Bandung- Sumedang, yang juga merupakan tempat bermunculannya pemuda-pemuda generasi
penerus bangsa, karena secara tidak langsung dengan terdapatnya 4 perguruan
tinggi di kecamatan ini seharusnya menjadikannya suatu area pendidikan yang
kondusif bagi para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Boleh diakui bahwa Jatinangor sudah mengalami
perkembangan yang pesat dibandingkan sebelumnya, yang tidak lain hanya
desa-desa dengan hamparan sawahnya yang begitu indah. Betapa tidak, dalam rentang waktu yang hanya
beberapa tahun saja, Jatinangor sudah dapat disulap menjadi bangunan-bangunan,
pusat perbelanjaan, dll. Namun kini,
seiring berjalannya waktu perkembangan yang terjadi pada Jatinangor pun
diiringi pula dengan perkembangan masalah yang menghampirinya.
Macet,
krisis air, pengelolaan sampah, tata ruang lingkungan yang belum begitu baik
merupakan maslah kompleks yang kini mendera Jatinangor kita. Mengapa saya
bilang kompleks? Karena masalah-masalah tersebut meruapakan masalah yang
lazimnya terdapat di suatu kota, bukan hanya di suatu kecamatan.
Masalah sampah di Jatinangor, dimana sampai saat ini
Jatinangor belum memiliki tempat pembuangan sampah yang memadai. Dengan kondisi
demikian, keberadaan lahan-lahan di Jatinangor pun nantinya akan semakin
sempit. Tentunya volume sampah dapat dipastikan terus bertambah, baik yang
berasal dari produksi masyarakat atau perusahaan. Tentunya hal
ini akan sangat berpengaruh pada sanitasi air di kawasan Jatinangor pada saat
ini dirasakan sangat kritis, mengkhawatirkan. Ketersediaan air bersih semakin
hari semakin berkurang secara signifikan. Hal ini bisa jadi dikarenakan
berkurangnya daerah resapan karena hampir sebagian daerah permukiman mahasiswa
telah tertutup oleh beton dan sejenisnya. Beberapa tempat malah terjadi
kekeringan pada saat-saat tertentu. Berkurangnya debit air
tanah bersih dan letak sumur yang terlalu dekat dengan pembuangan limbah
manusia (septictank) tentunya akan sangat berpengaruh pada kualitas
air yang dihasilkan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini bahkan menjadi
kajian tersendiri oleh beberapa kalangan.
Belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibatnya melesatnya jumlah
penduduk Jatinangor yang tidak diiringi dengan pelebaran jalan raya dan
pengaturan lalu lintas yang baik.
Apakah bisa kita pastikan semua itu dapat diatasi
Jatinangor sebagai kota baru dilingkungan pendidikan yang tidak tertata dengan
baik? Perubahan itu suatu keharusan memang, tetapi apabila perubahan itu tidak
tertata dan terencana dengan baik, maka kita tidak akan mengetahui mau dibawa
kemana Jatinangor ini nantinya. Paparan segelintir masalah yang mendera
Jatinangor ini seharusnya cukup menggelitik mahasiswa-mahasiswa yang hidup di
kawasan Jatinangor untuk turut
berkontribusi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Namun, kepemimpinan tokoh
pemerintaan Jatinangor juga sangat memiliki andil untuk melakukan perbaikan dan
pembangunan tersebut.
Beberapa tempo lalu Bapak Presiden RI dan wakilnya
sempat mengunjungi Jatinangor, seharusnya beliau sudah cukup “gatal” melihat paparan masalah di Jatinangor.
Mungkin ini bukan ranah kerja beliau, namun apa salahnya hanya sekedar
membicarakan sedikit solusi dengan pemerintah Jatinangor, mengingat Jatinangor
berisikian 4 perguruan tinggi dengan ribuan calon penerus bangsa di dalamnya.
Saya yakin di Indonesia bagian yang lain pun banyak yang memiliki permasalahan
yang sama dengan Jatinangor. Tidak kah beliau cukup khawatir dengan permasalahn
ini?
Sudah terlalu banyak masalah-masalah yang mendera
Indonesia saat ini bahkan beberapa tahun ke depan. Jangan sampai Jatinangor
menambah beban masalah Tanah Airku yang kucinta. Mari kita sebagai mahasiswa
mulai begerak setidaknya untuk Jatinangor terlebih dahulu, mengurangi salah
satu beban tanah air. Kita untuk Jatinangor, berarti 10 langkah lebih maju
menuju Indonesia yang lebih baik. Ayo!!!Hantarkan kontribusimu wahai
mahasiswa!!!!Hidup Mahasiswa!!!
No comments:
Post a Comment