Saturday, December 8, 2012

Hasil Wawancara Ketua Dewan Pengurus AMP mengenai masalah dan program unggulan AMP, serta harapan untuk AMP

Atlas Medical Pioneer merupakan suatu organisasi besar yang bergerak di bidang kepecintaalaman dengan berbasiskan medis. AMP telah berdiri selama 39 tahun dengan lika-liku perjalanan anggota-anggotanya. Untuk tetap mempertahankan karisma organisasi yang terbilang besar tersebut, tentunya banyak pula masalah-masalah yang dihadapi oleh AMP. Berikut merupakan uraian pendapat mengenai masalah yang kini sedang dihadapi oleh AMP saat ini oleh Ketua Dewan Pengurus XIX AMP, Muhammad Azhary Lazuardy, dr., diantaranya Partisispasi anggota dalam setiap bencana yang terjadi di lingkungan sekita terhambat oleh izin akademis yang diberikan oleh fakultas. Hal ini dikarenakan biasanya untuk ikut turun ke bencana mungkin sedikit menyita waktu yang notabenenya merupakan jam perkuliahan. Selain masalah tersebut ada pula masalah dalam sistem kaderisasi anggota yang saat ini sedikit berubah karena mengikuti dengan perubahan kurikulum akademis FK dari 4 tahun menjadi 3,5 tahun. Hal ini cukup mengubah lama kepengurusan dewan pengurus yang tadinya seharusnya 2 tahun, namun saat ini sedang peralihan menuju 1,5 tahun demi menaati peraturan bahwa ketua UKM setidaknya harus masih menjadi mahasiswa FK Unpad. Tentu segala perubahan ini membutuhkan adaptasi yang terbilang tidak mudah. Kemudian masalah lain yang diungkapkan oleh  Kang Azhary yaitu banyak anggota AMP yang ingin AMP berdiri dengan AD/ART sendiri, langsung di bawah fakultas dan tidak di bawah Senat Mahasiswa. Pelaksanaan kegiatan Dewan Pengurus pun masih berdasarkan AD/ART AMP bukan Senat Mahasiswa.

Lain halnya dengan pendapat yang dilontarkan oleh David Rudianto Salim yang merupakan Ketua Angkatan Adres Acala AMP' 20, mahasiswa FK Unpad '09. Menurut beliau, masalah yang sedang dihadapi AMP saat ini diantaranya saat ini AMP sedang krisis sumber daya manusia sehingga sudah semakin sedikit anggota AMP yang ikut turun dalam bencana. Hal ini dikarenakan banyaknya anggota  AMP yang sedang PTT atau pun sedang dalam PPDS, atau bahkan sudah berkeluarga, sehingga masing-masing anggota memiliki kesibukannya masing-masing. Untuk itu, menurutnya loyalitas terhadap suatu organisasi sangat perlu ditingkatkan. Selain itu, menurutnya program atau pendidikan di AMP masih menganut "cara lama" dimana sepertinya sudah tidak cocok jika diaplikasiskan dengan masa pendidikan di FK saat ini dimana membuat banyak anggota menjadi jenuh.

Itulah diantaranya beberapa masalah yang telah diangkapkan oleh Kang Azhary dan Kak David. Kemudian tentunya AMP memiliki program-program unggulan yang merupakan kontribusi-kontribusi yang telah AMP berikan untuk sekitar. Program unggulan yang diadakan saat periode kepemimpianan Kang Azhary sebagai Ketua Dewan pengurus XIX AMP, yaitu latihan gabungan dengan organisasi yang lebih ahli di bidang kepecintaalaman seperti Wanadri, Skyger, dan Kapinis. Kemudian ada pula pembuatan buku medis AMP yang berisikan mengenai bantuan medis, balai pengobatan & khitan, dan farmakologi praktis. Selain itu program unggulan lainnya adalah kegiatan yang bertemakan kesehatan dan kepecintaalaman bagi masyarakat luas, yaitu Bike to Health. Lalu kegiatan yang bertemakan kepecintalaman bagi mahasiswa FK Unpad, yaitu Fun Rafting yang belum lama ini telah diselenggarakan. Selain program-program yang telah disebutkan tadi, fokus DP XIX lebih kepada transisi sistem kaderisasi AMP yang baru, sesuai amanah RUA bulan Oktober 2011. Program unggulan lainnya yaitu kegiatan yang bersifat insidental seperti bantuan bencana alam yang meliputi banjirnya Soreang dan juga AMP sempat menurunkan tim ke Sungai Cikandang untuk kasus tenggelamnya mahasiswa ITB.

Harapan untuk Atlas Medical Pioner ke depannya menurut Kang Azhary adalah yang penting ada regenerasi anggota bagaimanapun sistemnya dan tidak terhambat oleh kurikulum akademis yang berubah-ubah. Sehubungan dengan AMP memiliki sistem kaderisasi yang lama utnuk mengubahnya harus mendapatka persetujuan RUA yang notabenenya cukup sulit. Untuk itu diharapkan agar fakultas dan Senat Mahasiswa dapat menghargai sistem organisasi AMP yang berbeda, berlandaskan AD/ART sendiri.Selain itu harapan lainnya, fakultas dapat memepermudah izin akademis bagi anggota AMP yang ikut turun untuk kegiatan sosial seperti bantuan bencana alam. Lain dengan harapan yang dilontarkan Kak David, yaitu harapannya semoga di Dewan Pengurus AMP berikutnya bisa menyusun langkah perubahan di AMP secara internal maupun eksternal, dimana para anggota AMP bisa nyaman antar sesama anggota, sehingga setiap kegiatan yang diadakan oleh AMP akan lebih maksimal ke depannya. Selain itu juga hibungan antar angkatan bisa menjadi lebih erat. Beliau juga menegaskan bahwa nama AMP yang menjadi besar itu karena kualitas dan tindakan nyata di masyarakat bukan karena sejarah AMP itu sendiri. Dan yang terakhir, beliau juga berharap semoga anggota AMP bisa menjadi dokter yang selalu siap di medan apapun dalam segala kondisi.
Salam. AMP..AMP..AMP!!


Friday, December 7, 2012

Resume Materi SCORE Rabu, 5 Desember 2012

Topik : Kepekaan
Judul: Mengenal Lebih Jauh Potensi Mahasiswa FK Unpad
Narasumber: Teh Lestari '08 & Teh Rika'09
Awalnya paradigma orang luar terutama mahasiswa-mahasiswa fakultas Unpad lainnya terhadap mahasiswa FK Unpad adalah mahasiswa yang hanya bisa "kupu-kupu", atau kuliah pulang - kuliah pulang. Bagi mereka hidup mahasiswa FK Unpad tidak lebih dari sekedar belajar dan belajar. Selain itu mereka pun memiliki persepsi bahwa mahasiswa FK Unpad terkesan eksklusif. Padahal jika kita tengok ke dalam kemahasiswaan FK Unpad yang sudah cukup begitu dinamis dengan beribu kegiatan di dalamnya, seharusnya paradigma orang-orang luar tersebut samasekali tidak terbukti. Namun ternyata seiring berjalannya waktu, banyak mahasiswa FK Unpad yang mulai turut berkontribusi ke luar lingkungan FK, BEM Kema Unpad  salah satunya. Inilah yang dikatakan Teh Rika saat SCORE tempo lalu. Menurutnya dengan kontribusi dilakukan mahasiswa FK Unpad di luar lingkungannya membuat "paradigma" tersebut hancur perlahan. Serupa dengan yang dikatakan oleh Teh Lestari yang juga merupakan salah satu narasumber saat tempo lalu, semua paradigma buruk tersebut musnah seketika dengan kontribusi yang bisa kita lakukan di luar.

Selain itu, kedua narasumber yang luar biasa ini juga mengungkapkan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa FK Unpad pada umumnya. Menutu mereka, dengan sistem pembelajaran yang diterapkan FK saat ini, yaitu PBL (Problem Base Learning),  dapat semakin mengasah kemampuan seperti mendengarkan, menulis, dan presentasi. Tanpa disadari bahwa kemampuan tersebut sangat menunjang kepandaian berorganisasi. Maka dari itu, untuk masalah kepandaian berorganisasi, mahasiswa FK Unpad tentunya sudaht tidah diragukan kembali. Selain itu, mahasiswa FK yg terbiasa dengan "bonus-bonus" yang biasa kita sebut dengan Learning Issues, juga sudah membiasakan mahasiswa untuk menulis karya tulis ilmiah setiap harinya. Lalu mahasiswa FK Unpad juga memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang luar biasa, karena dari text book- text book penunjang belajarnya pun menggunakan Bahasa Inggris, yang semakin menunjang mahasiswa untuk berkemampuan berbahasa Inggris yang baik. Itulah yang diungkapkan oleh Teh Rika. Lain dengan yang diungkapkan oleh Teh Tari, "Potensi Mahasiswa FK sebenarnya sangat banyak dan sangat sulit untuk disebutkan satu per satu, yang penting adalah bagaimana kita pintar-pintar menggali potensi tersebut", tuturnya. Jelaslah mengapa mahasiswa FK Unpad memiliki segudang potensi, karena lingkungannya pun mendukung untuk ke arah tersebut. Lingkungan mahasiswa yang bisa dibilang tidak ada senioritas sama sekali, dimana kakak sayang adik dan adik sayang kakaknya. Hal inilah yang semakin membuat mahasiswa FK Unpad semakin berkembang, karena mereka saling berbagi, saling membantu, dan saling mendukung satu sama lain. Begitu pula dengan dosen-dosen yang tidak kalah baik hatinya. beliau-beliau inilah yang mendukung mereka secara akademis.

Namun ternyata diantara potensi-potensi yang dimiliki oleh mahasiswa FK Unpad tersebut , ada beberapa hal yang kira-kira bisa menghambat mahasiswa FK untuk lebih prestatif. Diantaranya peraturan FK yang cukup ketat dalam masalah kehadiran perkuliahan. Menurut Teh Tari, hal ini cukup membuat mahasiswa FK yg ingin ikut perlomabaan ataupun seminar-seminar di jam perkuliahan sedikit sulit untuk mendapatkan dispensasi. Selain itu, sebenarnya mahasiswa FK Unpad memiliki motivasi yang kuat untuk lebih prestatif, dan motivasi tersebut dirasakan dapat menular dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain, namun yang kurang adalah apresiasi terhadap prestasi-prestasi yang telah diraih oleh mahasiswa FK Unpad, sehingga tidak banyak yang tau ataupun peduli akan hal tersebut. Apresiasi ini dianggap penting oleh Teh Rika sebagai pemicu mahasiswa FK lainnya untuk juga bisa meraih prestasi.

Kemudian potensi-potensi yang dimiliki  mahasiswa FK Unpad juga ditunjang oleh peluang-peluang yang ada. Menurut Teh Tari peluang untuk berprestasi itu banyak, tinggal niat kita ada atau tidak. Beliau yakin bahwa ketika ada niat yang kuat maka akan ada jalan menuju prestasi. Selain itu hal yang tida kalah pentingnya adalah kemampuan kita memilih langkah dlm kehidupan. Teh Tari menyarankan bahwa setiap langkah yang kita pilih harus ada sisi postitif yang bisa kita kembangkan dan baiknya setiap langkah yang kita pilih pun dapat menunjang kita kepada tujuan kita untuk berprestasi di bidang yang kita kuasai. Teh Rika pun menambahkan,"Untuk dapat berprestasi dimanapun, kita harus rela berkorban". Hal itu yang sering dilupakan. Mungkin kita harus rela mengorbanlkan sedikit waktu bermain kita kita,sedikit jam tidur kita, dan lain-dan lain. Jika kita sudah memiliki niat dan tekad yang kuat serta mau dan rela berkorban, maka InsyaAllah akan ada saja jalan menuju prestasi.

Selain itu kedua teteh cantik ini juga berbagi kiat-kiat sukses dalan membagi waktu. Diantaranya dengan membuat to do list dan prioritas yang akan kita lakukan setiap harinya, lalu lakukan satu per satu dengan tenang, InsyaAllah kita sudah beberapa langkah lebih maju menuju tujuan hidup kita. Terakhir, Teh Tari dan Teh Rika pun berpesan, "Buat hidupmu lebih berarti dengan hal-hal yang positif yang bisa kita lakukan...dan untuk setiap langkah yang telah kita jalani,jangan sampai ada penyesalan diantaranya, yang harusnya ada hanya BELAJAR bukan MENYESAL. Leave with no Regrets!!"..

Sejarah Singkat Atlas Medical Pioneer


AMP, atau Atlas Medical Pioneer merupakan organisasi pecinta alam dari Fakultas Kedokteran Umum Universitas Padjadjaran yang berdiri pada tanggal 16 April 1973. Organisasi ini berdiri dari hobi sekelompok mahasiswa FK Unpad. Pada awal Maret 1973, rencana pembentukan pecinta alam di FK Unpad dimatangkan dibawah koordinasi Biro Khusus Senat Mahasiswa. Setelah rencana matang, maka dibukalah pendaftaran untuk rekrutment yang pertama kali,dan tercatat sebanyak 70 orang mendaftar. Pada tanggal 14 April 1973, dimulailah long march yang pertama kalinya, dengan peserta long march I sebanyak 57 orang. Regu pria start dari Lab Anatomi Dago menuju Jayagiri yang dipimpin oleh Wahyu Harihardjaja, dr. Sp.PD. Adapun untuk regu wanita, start pada tanggal 15 April 1973 dari Lembang, dan dipimpin oleh Rafiq Boesoirie, dr. Sp.An. Pada tanggal 16 April, perjalanan dilanjutkan menuju Situ Lembang dan dilanjutkan dengan pelantikan angkatan I sebanyak 57 orang, yang kemudian diberi nama Angkatan LL (Lembah Lemo).
AMP terus berkembang hingga sekarang, dengan total anggota sebanyak 800 orang lebih dan total angkatan sebanyak 19 angkatan, yang terdiri dari mahasiswa FK Unpad, Ko-ass, dokter, dokter spesialis, dan konsulen, yang tersebar di seluruh Indonesia. Kepengurusan AMP dilaksanakan oleh DP (Dewan Pengurus) dengan masa bakti selama 2 tahun yang dipilih melalui RUA, dengan total sebanyak 18 DP telah bergulir.
Penerimaan anggota baru, dilaksanakan setiap 2 tahun sekali, dimana setiap orang yang ingin menjadi AMP yang kemudian disebut siswa, wajib menjalani masa Pendidikan Dasar selama 6 bulan yang ditutup dengan Medan Operasi, dan Pendidikan Lanjutan selama 1,5 tahun lamanya.

Wednesday, December 5, 2012

Sungguh Berat Bebanmu, Jatinangorku



Jatinangor ...suatu kecamatan di perbatasan antara Bandung- Sumedang, yang juga merupakan  tempat bermunculannya pemuda-pemuda generasi penerus bangsa, karena secara tidak langsung dengan terdapatnya 4 perguruan tinggi di kecamatan ini seharusnya menjadikannya suatu area pendidikan yang kondusif bagi para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.  Boleh diakui bahwa Jatinangor sudah mengalami perkembangan yang pesat dibandingkan sebelumnya, yang tidak lain hanya desa-desa dengan hamparan sawahnya yang begitu indah.  Betapa tidak, dalam rentang waktu yang hanya beberapa tahun saja, Jatinangor sudah dapat disulap menjadi bangunan-bangunan, pusat perbelanjaan, dll.  Namun kini, seiring berjalannya waktu perkembangan yang terjadi pada Jatinangor pun diiringi pula dengan perkembangan masalah yang menghampirinya.  

Macet, krisis air, pengelolaan sampah, tata ruang lingkungan yang belum begitu baik merupakan maslah kompleks yang kini mendera Jatinangor kita. Mengapa saya bilang kompleks? Karena masalah-masalah tersebut meruapakan masalah yang lazimnya terdapat di suatu kota, bukan hanya di suatu kecamatan.
Masalah sampah di Jatinangor, dimana sampai saat ini Jatinangor belum memiliki tempat pembuangan sampah yang memadai. Dengan kondisi demikian, keberadaan lahan-lahan di Jatinangor pun nantinya akan semakin sempit. Tentunya volume sampah dapat dipastikan terus bertambah, baik yang berasal dari produksi masyarakat atau perusahaan. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada sanitasi air di kawasan Jatinangor pada saat ini dirasakan sangat kritis, mengkhawatirkan. Ketersediaan air bersih semakin hari semakin berkurang secara signifikan. Hal ini bisa jadi dikarenakan berkurangnya daerah resapan karena hampir sebagian daerah permukiman mahasiswa telah tertutup oleh beton dan sejenisnya. Beberapa tempat malah terjadi kekeringan pada saat-saat tertentu. Berkurangnya debit air tanah bersih dan letak sumur yang terlalu dekat dengan pembuangan limbah manusia (septictank) tentunya akan sangat berpengaruh pada kualitas air yang dihasilkan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini bahkan menjadi kajian tersendiri oleh beberapa kalangan.  Belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibatnya melesatnya jumlah penduduk Jatinangor yang tidak diiringi dengan pelebaran jalan raya dan pengaturan lalu lintas yang baik.

Apakah bisa kita pastikan semua itu dapat diatasi Jatinangor sebagai kota baru dilingkungan pendidikan yang tidak tertata dengan baik? Perubahan itu suatu keharusan memang, tetapi apabila perubahan itu tidak tertata dan terencana dengan baik, maka kita tidak akan mengetahui mau dibawa kemana Jatinangor ini nantinya. Paparan segelintir masalah yang mendera Jatinangor ini seharusnya cukup menggelitik mahasiswa-mahasiswa yang hidup di kawasan  Jatinangor untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Namun, kepemimpinan tokoh pemerintaan Jatinangor juga sangat memiliki andil untuk melakukan perbaikan dan pembangunan tersebut.

Beberapa tempo lalu Bapak Presiden RI dan wakilnya sempat mengunjungi Jatinangor, seharusnya beliau sudah cukup “gatal”  melihat paparan masalah di Jatinangor. Mungkin ini bukan ranah kerja beliau, namun apa salahnya hanya sekedar membicarakan sedikit solusi dengan pemerintah Jatinangor, mengingat Jatinangor berisikian 4 perguruan tinggi dengan ribuan calon penerus bangsa di dalamnya. Saya yakin di Indonesia bagian yang lain pun banyak yang memiliki permasalahan yang sama dengan Jatinangor. Tidak kah beliau cukup khawatir dengan permasalahn ini?

Sudah terlalu banyak masalah-masalah yang mendera Indonesia saat ini bahkan beberapa tahun ke depan. Jangan sampai Jatinangor menambah beban masalah Tanah Airku yang kucinta. Mari kita sebagai mahasiswa mulai begerak setidaknya untuk Jatinangor terlebih dahulu, mengurangi salah satu beban tanah air. Kita untuk Jatinangor, berarti 10 langkah lebih maju menuju Indonesia yang lebih baik. Ayo!!!Hantarkan kontribusimu wahai mahasiswa!!!!Hidup Mahasiswa!!!